Rohadi, Sosok Veteran Yang Belum Merasakan Manisnya Kemerdekaan

Jadibijak.com. Rohadi, Sosok Veteran Yang Belum Merasakan Manisnya Kemerdekaan - Sebentar lagi menjalang HUT RI yang ke-73, sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya kita menghargai jasa-jasa para pahlawan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Sehingga tidak heran apabila setiap bulan Agustus, banyak yang menyelenggarakan berbagai event-event dengan tema kemerdekaan Indonesia, yang puncaknya biasanya pada malam tanggal 17 Agustus 2018.

Dibalik kemerdekaan Indonesia, pasti banyak pejuang-pejuan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya. Banyak juga pahlawan yang gugur di medan pertempuran, tapi banyak juga yang selamat. Bahkan sampai sekaran ada yang masih sehat dan masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Indonesia yang merdeka 73 tahun yang lalu, tidak lantas membuat para veteran atau mantan pejuang juga merasakan manisnya kemerdekaan. Ada sebagian pejuan/veteran yang terpaksa hidup susah, karena tidak memiliki pekerjaan yang layak dan santunan dari pemerintah yang cukup.

Salah satunya adalah Rohadi, seorang penarik becak yang saat ini tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Dulunya, ia adalah seorang pejuang kemerdekaan yang membela mati-matian demi Kemerdekaan Indonesia, tapi di usia yang sudah tidak muda lagi ia terpaksa mengayuh becak agar bisa menghidupi keluarganya yang serba sulit.  

Rohadi, Seorang Veteran Pengayuh Becak
Rohadi, Seorang Veteran Pengayuh Becak

Beliau adalah seorang Prajurit yang menjadi salah satu tentara Dwikora pada masa pergolakan Kemerdekaan di tahun 1962. Kini usianya sudah mencapai 71 tahun. 

"Dulu saya ikut mempertahankan Kepulauan Tanjung Pinang di Sumatera saat Indonesia bersengketa dengan Malaysia," ujar Rohadi, di kenal sebagai pahlawan lantaran perannya sebagai prajurit untuk mempertahankan Kepulauan Tanjung Pinang di Sumatera saat Indonesia bersengketa dengan Malaysia.

Jasa-jasanya terhadap negara memang sangatlah besar, beliau dan teman-teman seperjuangannya berusaha untuk mempertahankan dari negara-negara yang mencoba merebut kembali kemerdekaan yang telah Indonesia capai. Peristiwa percobaan perebutan kekuasaan atau kemerdekaan ini disebut sebagai Agresi Militer. 

Tapi admin sangat salut dengan perjuangannya sekarang, walaupun beliau hidup dalam serba pas-pasan. Namun, beliau tidak menyerah begitu saja, beliau juga tidak meminta-minta bahkan beliau tidak meminta lebih pada negara ini.

Padahal negara kita sangatlah kaya, kalau boleh saya menyuarakan aspirasi. Cobalah para pejabat itu belajar dari para veteran ini, yang memperjuangkan kemerdekaan sepenuh jiwa dan raga. Biar para pejabat yang korupsi itu merasa malu.

Rohadi mengungkapkan bahwa beliau juga masih menerima santunan dari Pemerintah, dulunya mendapatkan tunjangan veteran yang diberikan pemerintah sekitar 1,4 juta, tunjangan kehormatan Rp 250 ribu/bulan.

Jumlah tersebut, menurutnya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Untuk menambal kekurangan yang ada Rohadi memutuskan menjadi tukang becak yang setiap harinya harus berebut penumpang dengan ojek-ojek online. 

Mungkin tidak hanya Rohadi saja yang merasakan pahitnya dikala manisnya Kemerdekaan dirasakan oleh kaum elite di Indonesia. Berdasarkan pernyataan dari Ketua Veteran Gedung Juang 45 Semarang, Suhartono menjelaskan, bahwa banyak rekan seperjuangannya yang juga merasakan hidup yang susah dan serba pas-pasan. Dari 1000 pejuang kemerdekaan di Kota Semarang, kini hanya tersisa 600 orang masih hidup.

"Dan mayoritas hidupnya susah. Banyak menjadi tukang parkir, tukang becak sampai hidupnya terkatung-katung," keluhnya.

Sungguh miris memang, pokoknya saya dukung KPK untuk berantas korupsi. Percuma negara kita kaya kalau mental-mental pejabatnya rusak dan jadi koruptor. Ngga lihat apa, kalau disana ada veteran yang membutuhkan sokongan dari pemerintah.

"Bangsa Yang Besar adalah Bangsa Yang Menghargai Para Pahlawan"

Komentar

Postingan Populer